Sistem Pencatatan Persediaan, Jenis, Metode Penilaian Persediaan, dan Contohnya
Sistem Pencatatan Persediaan
Dalam dunia akuntansi dikenal adanya istilah persediaan. Ada berbagai
jenis persediaan seperti persediaan barang dagang, persediaan bahan baku,
persediaan barang jadi, dan lain-lain.
Pencatatan persediaan juga merupakan salah satu faktor penting dalam
menjalankan suatu usaha terutama untuk perusahaan dagang dan manufaktur.
Ada dua sistem pencatatan persediaan yaitu sistem periodik dan sistem
prepetual, berikut penjelasannya
Sistem Periodik / Sistem Fisik
Dalam
sistem fisik atau sistem periodik, pencatatan persediaan barang dagang
dilakukan secara berkala, baik itu satu Minggu sekali, sebulan sekali, dua
bulan sekali, tiga bulan sekali, enam bulan sekali, atau pada akhir periode
saat hendak tutup buku.
Sistem Prepetual / Terus
menerus
Sesuai
namanya, pencatatan persediaan barang dagangan dilakukan terus menerus setiap terjadi
perubahan persediaan, baik itu pembelian, penjualan, retur, barang rusak, disumbangkan,
dan lain-lain.
Metode
Penilaian Persediaan
Dari dua
sistem pencatatan di atas, masing-masing memiliki metode penilaian persediaan
yang berbeda. Penilaian persediaan yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mengetahui nilai persediaan yang masih ada di gudang / belum terjual.
Lalu
bagaimana dengan perusahaan yang menggunakan sistem periodik saat akan menilai
persediaan akhir. Dalam sistem periodik, perusahaan biasanya melakukan Stock
opname atau perhitungan fisik barang dagangan yang masih tersedia di gudang
secara langsung. “Ouh kalo gitu berarti di sistem prepetual tidak perlu
dilakukan Stock opname yaa ?” Jawabannya bisa IYA bisa TIDAK, tergantung
perusahaan tersebut. Karena Stock opname juga dilakukan untuk menyesuaikan
catatan akuntansi dengan jumlah stok barang atau persediaan yang masih disimpan
perusahaan.
Berikut
pembahasan beserta contohnya. Contoh menggunakan data berikut.
Tgl |
Keterangan |
Jumlah (unit) |
Harga perunit |
1 |
Persediaan
Awal |
100 |
@Rp 49.000,00 |
7 |
Pembelian |
50 |
@Rp 55.000,00 |
11 |
Penjualan |
120 |
|
18 |
Pembelian |
50 |
@Rp 57.400,00 |
20 |
Retur
Pembelian |
5 |
@Rp 57.400,00 |
24 |
Penjualan |
40 |
|
27 |
Retur
Penjualan |
2 |
|
31 |
Persediaan
akhir |
37 |
|
Metode Penilaian Persediaan Sistem Periodik
Dalam sistem
periodik ada 5 cara dalam menilai persediaan yang masih tersisa yaitu Metode
Identifikasi Khusus, Rata-rata sederhana, Rata-rata Tertimbang, FIFO, dan LIFO.
Identifikasi khusus
Metode ini menggunakan penanda khusus dari barang tersebut, bisa berupa
tanggal, harga termurah, harga termahal, atau penanda lainnya.
Misal berdasarkan stock opname terdapat
sisa barang 37 unit yang diidentifikasikan sebagai berikut. 20 unit merupakan
barang dengan harga perunit termahal (@Rp 57.400) dan 17 unitnya merupakann
barang dengan hargaperunit termurah (@Rp 49.000).
Jadi nilai persediaan akhirnya = (20 x Rp 57.400) + (17 x Rp 49.000) = Rp
1.148.000 + Rp 833.000 = Rp 1.981.000,00
Rata-rata Sederhana (Simple Average Method)
Metode ini salah satu metode yang mudah juga karena hanya mencari rata -
rata harga per unit barang. Caranya dengan menambahkan semua variasi harga per
unit barang yang ada lalu dibagi dengan berapa banyak variasi harga tersebut,
ketemulah Harga per unit rata-rata. Harga per unit rata-rata tersebut lalu
dikalikan dengan sisa persediaan yang ada di gudang.
Contoh menggunakan data di atas, jadi perhitungan harga per unitnya = (Rp
49.000 + Rp 55.000 + Rp 57.400) / 3 = Rp 53.800. Jadi nilai persediaan akhirnya
= 37 x Rp 53.800 = Rp 1.990.600
Rata-rata Tertimbang (Weighted Average Method)
Metode ini merupakan pengembangan dari metode Rata-rata Sederhana, di
mana harga tiap unit barang dikali dengan kuantitasnya lalu dijumlahkan semua
dan hasilnya dibagi total semua persediaan yang dibeli yang akan menghasilkan
harga per unit rata – rata. Harga per unit rata-rata tersebut dikali dengan
sisa persediaan yang ada.
Contoh (masih dengan data di atas), Harga perunit rata-ratanya = ((Rp 49.000
x 100) + (Rp 55.000 x 50) + (Rp 57.400 x 50)) /
200 = (Rp 4.900.000 + Rp 2.750.000 + Rp 2.870.000) / 200 = Rp 10.520.000/200
= Rp 52.600. Nilai persediaan akhirnya = 37 x Rp Rp 52.600 = Rp 1.946.200
FIFO (First In First Out)
FIFO atau dalam bahasa Indonesia disebut MPKP (Masuk Pertama Keluar
Pertama). Asumsinya harga barang yang
pertama masuk itu juga akan dieliminasi dahulu. Jadi nantinya pada saat menghitung
nilai persediaan hanya meng-kalikan jumlah persediaan yang tersisa dengan harga
per unit barang yang terbaru.
Dari data di atas, barang yang tersisa sebanyak 37 unit dengan harga
perunit terakhir yaitu @Rp 57.400. Maka Nilai persediaan akhirnya = 37 x Rp 57.400
= Rp 2.123.800.
LIFO (Last In First Out)
LIFO ini merupakan kebalikan dari FIFO. Nama lain LIFO yiatu MTKP atau
Masuk Terakhir Keluar Pertama. Asumsinya harga barang yang akan dieliminasi
dahulu adalah harga barang yang terbaru. Jadi nantinya pada saat menghitung
nilai persediaan hanya meng-kalikan jumlah persediaan yang tersisa dengan harga
per unit barang yang paling awal.
Dari data di atas, barang yang tersisa sebanyak 37 unit dengan harga
perunit paling awal yaitu @Rp 49.000. Maka Nilai persediaan akhirnya = 37 x Rp
49.000 = Rp 1.813.000.
Mungkin kalian berpikir, “Masa barang
yang baru malah dikeluarkan dahulu, sedangkan barang yang lama masih digudang,
nanti kadaluwarsa dong?”
*Note : Dalam metode FIFO dan LIFO
yang dimaksud dengan masuk dan keluar itu bukan
barangnya tapi hanya nilai / harga barangnya. Karena bagian akuntansi tidak
memikirkan barang yang mana yang keluar tetapi harga barang mana yang akan dikeluarkan/dieliminasi.
Selain itu metode LIFO tidak digunakan dan tidak diakui oleh perpajakan karena beberapa alasan salah satunya membuat laba lebih kecil dari yang sesungguhnya.
Metode Penilaian Persediaan Sistem Prepetual
Untuk
menilai persediaan dengan sistem prepetual lebih mudah karena hanya perlu
melihat pada kolom saldo pada kartu persediaan. Dalam sistem Prepetual hanya
ada 3 cara dalam menilai persediaan yang masih tersisa yaitu Metode Rata-rata
Bergerak, FIFO, dan LIFO.
Rata-rata Bergerak (Moving Average Method)
Sesuai namanya harga pokok barang perunit selalu berubah – ubah setiap ada pergerakan (mutasi) masuk / pembelian barang dagangan. Caranya dengan kali-kan kuantitas barang di kolom saldo dengan harga perunitnya, kali-kan juga kuantitas barang yang baru dibeli dengan harga perunitnya, lalu jumlahkan hasil keduanya dan bagi dengan total kuantitas barang yang tersedia (kuantitas saldo + kuantitas yang baru dibeli). Contoh
FIFO (First In First Out)
Untuk FIFO disini hampir sama dengan FIFO sistem periodik, bedanya hanya di sistem prepetual ini eliminasi harga barangnya dilakukan setiap terjadi transaksi penjualan. Jadi pada saat menjual, maka harga barang yang akan dieliminasi dahulu adalah harga yang lebih awal dibeli. Jika stok barang dengan harga tersebut tidak cukup, maka kurangnya mengeliminasi dari harga barang yang dibeli setelah harga yang pertama itu. Jika masih kurang lagi, maka mengeliminasi harga barang setelahnya lagi. Untuk lebih lengkapnya perhatikan contoh berikut.
LIFO (Last In First Out)
LIFO di sini kebalikan dari FIFO sistem prepetual. Yang mana pada saat terjadi penjualan, maka harga barang yang akan dieliminasi dahulu adalah harga yang terakhir dibeli. Jika stok barang dengan harga terakhir tersebut tidak cukup, maka kurangnya mengeliminasi dari harga barang yang dibeli sebelum harga yang terakhir itu. Jika masih kurang lagi, maka mengeliminasi harga barang sebelumnya lagi. Untuk lebih lengkapnya perhatikan contoh berikut
Nah
begitulah penjelasan tentang sistem pencatatan persediaan, jenisnya, metode-metode
beserta conothnya. Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan kalian dalam
bisang akuntansi khususnya mengenai persediaan.
See you XD
Komentar
Posting Komentar